Kamis, 01 Januari 2015

Dari Dapur Berukuran 2 x 4 Meter

Menginjak bulan january 2015 , aku hitung sudah lima bulan usaha Innuri browniesku, dalam rencana kerjaku, ini masuk dalam triwulan kedua.  Alhamdulillah bisnisku tidak berjalan, melainkan berlari dan semuanya dimulai dari dapur berukuran 2 x 4 meter persegi.



"Bisnis itu tidak bisa diprediksi, bisanya dilakukan", begitu kata suamiku sebagai marketingnya Innuri brownies.  Aku merasa kata-katanya benar sekali, banyak hal meleset dari perkiraan.  Bisnis yang aku lakukan seperti menemukan jalannya sendiri, jalannya mengajakku berlari dan melompat.

Sebelumnya kami mengira, browniesku bakalan lebih dikenal dan laris dengan jalan menyewa tempat di Indomart dan di lokasi strategis lainnya.  Jadilah kami menyewa 3 tempat di Indomart dan di pasar Karanglo.  Akhirnya keempat out let itu kami tutup karena banyak alasan, ada yang karena sepi sekali, ada yang karena tidak kunjung mendapat pramuniaga, ada yang karena tidak efektif. Kalau dihitung ruginya ya banyaklah untuk skala usaha rumahan seperti ini, tapi aku terbiasa tidak berpikir rugi , aku anggap ini  merupakan pembelajaran dan proses yang musti aku lewati.

Akhirnya hanya menjalankan 2 out let , yang di emperan Cantiq butikku dan di mobil di pasar besar Malang. Selebihnya kami menggunakan sistem titip jual di toko-toko.

Semula cara titip di toko-toko itupun cukup memacu detak jantung  karena saking banyaknya retur dan brownies rusak. Tiap pulang keliling, salesku membawa puluhan brownies retur, saat itu salesku cuma 2 orang, sampai freezerku tidak muat, dan akhirnya brownies yang masih bagus itupun berjamur.  Tiap ke kebun, aku membawa 2 karung besar brownies rusak untuk makanan ikan.

Untuk mempelajari dimana letak kesalahannya, suamiku ikutan turun menitip di toko-toko.  Dari sinilah ketemu kelemahan cara kerja salesku.  Hanya 2 mingguan suamiku turun jadi sales, omzetpun naik.  Sekarang salesku bertambah 1 lagi untuk melayani pelanggan-pelanggan baru 'temuan' suamiku, sedangkan suamiku bisa duduk manis sambil menata ulang cara kerja 3 orang salesnya.

Saat mengawali bisnis inipun dulu aku pernah memakai sistem direct selling lewat sepeda motor dengan booth kaca di belakangnya.  Aku beli 2 armada booth sepeda motor yang dijalankan 2 orang sales. Cukup berjalan sih cara ini, tapi kurang maksimal bila dibandingkan dengan cara nitip di toko.  Akhirnya sistem pemasaran dengan cara ini aku hentikan dan boothnya nganggur teronggok di depan kamar mandi .... hehe.

Saat ini, setelah uji coba berbagai macam cara dilakukan, sistem pemasaran browniesku sudah menemukan bentuknya, efeknya permintaannya melejit diluar rencana.  Rencanaku untuk triwulan kedua ini cuma memproduksi 150 brownies sehari, kurasa itu sudah cukup banyak, dengan retur maksimal 20% dari produksi, kukira aku sudah mendapatkan keuntungan.  Tapi permintaan pasar memaksaku berlari.

Untuk menyuplai seluruh pelanggan, kami membutuhkan 300 brownies setiap hari, sedangkan kemampuan produksi saat ini hanya sekitar 200 brownies sehari.  Untuk meningkatkannya aku musti mencari tenaga produksi baru, dan disitulah letak seninya .... hehehe.  Ini adalah rencanaku di bulan january, menambah tenaga produksi dan bisa menghasilkan 300 brownies sehari, masih dari dapur berukuran 2 x 4 meter persegi.  Minta doanya ya semoga tercapai.

Banyak teman yang bertanya, bagaimana sih caranya kok bisa selaris itu dalam waktu singkat ?

Sebenarnya aku sudah banyak menulis di blog, bagaimana caraku melakukan bisnis ini.  Silahkan dibuka-buka lagi tulisanku terdahulu.

Secara garis besarnya dimulai dari membuat produk yang diterima pasar, yang ditandai dengan produk yang disukai dan dibutuhkan pasar. Ditambah harga yang sesuai dengan target market kita.  Sistem pemasarannya sudah aku ceritakan tadi.  Strategi nitip di warung juga sudah pernah aku tulis.

Di toko mana kue kita bakalan laris itu susah diprediksi, baru ketahuan setelah dilakukan.  Adakalanya perkiraanku meleset, kukira bakalan ramai sewaktu dititip di toko yang sudah punya banyak pelanggan, eh ternyata tidak.  Sebaliknya di toko yang kelihatan sepi, ternyata omzetnya bisa puluhan brownies habis dalam sehari. Jadi yang penting adalah melakukan, lalu menyeleksi, mana toko yang masih bisa terus dititipi dan mana yang musti dihentikan.

Kukira yang menjadi basic dari suksesnya usaha yang kita rintis adalah pola pikir kita sebagai pemilik usaha. Aku sering bilang mulailah dengan prinsip bismillah, atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  Basicnya adalah kasih sayang yang dimulai dari diri kita sendiri.

Aku sering mendoakan orang-orang yang aku kenal atau yang tidak aku kenal, bahkan orang yang cuma aku lihat pas lewat.  Aku sering mendoakan toko milik orang-orang, dan aku senang bila melihat orang lain sukses. Aku juga suka mendoakan alam , anak-anak, orang tua, wanita dan teman temanku.  Aku juga tidak suka memelihara perasaan negatif, biasanya aku eliminasi dengan jalan memaafkan dan kembali menyayangi.

Saat bisnis seperti buntu, aku selalu berprasangka baik kepada Allah dan tetap memelihara perasaan optimis sambil melakukan analisa, bagian mana yang perlu ditata dan diperbaiki lagi. 

Mungkin ini adalah rahasia terbesarnya.  Allahlah yang mendatangkan pembeli kepada kita,  Allahlah yang membuat semuanya menjadi mudah.  Sedangkan sifat Allah adalah kasih sayang, makanya kita musti 'menyamakan diri' denganNya.

Salam sukses selalu di tahun 2015, tahun yang semoga membawa keberkahan buat kita semua.


2 komentar:

  1. Thanks sharingnya mba. Betul banget berbisnis harus praktek dan terutama mindset yg positif dan berhati lapang.

    BalasHapus