Rabu, 17 September 2014

Mengembangkan Usaha Nitip

Pagiiiii bunda-bunda sayang,
Ada banyak bunda-bunda NCC yang bertanya padaku bagaimana memulai usaha kuliner, dan ada yang sudah punya usaha nitip di kantin sekolah, tapi ingin mengembangkannya. Aku akan bahas sebatas pengetahuanku dan semoga ini bermanfaat buat pemula.

Aku ambil contoh sederhana saja : mau bikin usaha makanan kecil / es yang dititip di kantin-kantin sekolah (usaha seperti ini bisa gede loh bunda)

Pertama produknya harus bisa diterima anak sekolah dan harganya musti terjangkau anak sekolah. Lakukan tes pemasaran di sebuah atau lebih sekolah, amati dalam seminggu - dua mingggu apakah produk itu tetap disukai / tetap laku keras.

Bila produknya tetap laku keras, berarti layak untuk di kembangkan di sekolah-sekolah lain. Maka musti segera menyiapkan strategi selanjutnya.

Tulis target yang ingin dicapai oleh usaha bunda , misalnya ingin punya cabang titip di 50 sekolah, atau ingin setiap sekolah di kabupaten dititipi.

Lalu hitung kebutuhan produk sesuai target yang telah ditetapkan, dan berapa tenaga produksi dan tenaga distribusi yang diperlukan.

Target ini bisa dijalani secara bertahap, misalnya dalam bulan oktober bisa masuk di 10 sekolah dulu, selanjutnya ditambah di bulan-bulan selanjutnya.

Selama menjalankan semua itu, jangan lupa mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang lemah. Dan jangan lupa membangun sistem usaha seperti pernah aku share sebelumnya.

Semoga bermanfaat ya bunda.
Semangat !!!!!

Selasa, 16 September 2014

Strategi Nitip Di Warung

Sudah sebulan aku menjalani usaha jualan brownies, dan syukurlah target untuk bisa menggaji karyawan dari keuntungan brownies sudah tercapai, bahkan aku sudah untung loh ! Alhamdulillah.



Ceritanya si brownies aku jual di 3 out let , di booth di depan butik , di booth di depan Indomaret (baru berjalan 3 hari), dan di mobil di pasar besar Malang.

Selain di out let, juga dititip-titip di toko kue dan dijual secara direct selling dari seorang salesku .

Penjualan di out let menurutku bisa lebih terkontrol.  Yang susah dikontrol itu penjualan yang dititip, karena tidak mungkin mengontrol penjualan setiap hari , pemilik tokonya yang merasa terganggu, jadi cuma bisa dilakukan 2-3 hari sekali sambil menukar dengan brownies yang baru. Kadang salesku yang terlambat menukar barang.  Disinilah sering terjadi retur barang yang pada akhirnya masuk ke kolam ikan suami di kebun .... hehehe, iyaaa, brownies yang rusak sering  jadi makanan ikan di kebun.

Berangkat dari pengalaman jualan sebulan, aku pelajari hal-hal ini saat menitip barang di toko kue :

- perhatikan tokonya, apakah cukup ramai pembeli dan banyak pelanggan.
- perhatikan cara pemilik toko mendisplay barang kita, apakah cukup terlihat atau malah ditaruh di tempat yang tersembunyi.  Pernah titip di toko yang cukup ramai, tapi browniesku ditaruh di rak bawah, sehingga tidak terlihat, toko seperti ini tidak usah dititipi lagi.
- kalau bisa bikin tempat sendiri, semacam wadah untuk mendisplay barang yang bisa diletakkan di atas meja, yang ada tulisan brand kita dan mudah terbaca pembeli.
- amati kesesuaian produk dan harga kita dengan produk dan harga dari toko yang kita titipi.
- jangan lupa menghitung, berapa persen barang rusak yang masih bisa ditoleransi oleh usaha kita.
- jangan melanjutkan menitip bila terlalu banyak barang yang kembali. 

Beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang bertanya padaku, ingin menitip kue di warung-warung yang terdekat dengan rumahnya, tapi masih bingung nitip kue/makanan apa, barangkali tips dibawah ini berguna :

- pelajari dulu karakteristik warungnya, apakah berada di perumahan yang padat anak kecil ? atau di perumahan yang banyak ibu-ibu bekerja ?
- temukan peluang dari  analisa sederhana , bila banyak anak kecil tentunya bisa bikin kue-kue yang disukai anak-anak seperti donat , cup cake , cilok sehat, dll.  Bila di perumahan yang banyak ibu-ibu bekerja, mungkin mereka tidak sempat memasak lauk, jadi bisa bikin lauk pauk seperti botok, pepes, sayur lodeh dll.
- jangan lupa pasang harga yang terjangkau oleh target pasar


Demikian sharingku, semoga berguna.

Rabu, 03 September 2014

Company Tagline Yang .....

Tagline alias slogan dalam usaha Cantiq-ku adalah " a touch of hand painting on clothes and interior " . Dan sampai sekarang di kartu nama dan nota Cantiq tetap seperti itu walau usaha per'klambi'anku meluas jadi batik tulis, jumputan dan aneka sulaman.

Walau slogan seperti itu  terlalu panjang , tapi aku ra urus .... hahaha. Dan lucunya, walau aku tahu teori membuat slogan untuk sebuah company , aku mengulang lagi (kesalahan) bikin tagline yang panjaaaang untuk usaha browniesku, dan tambah lucu lagi karena slogannya gak nyambung sama browniesnya.

Yang bener, kalau bisnis makanan, slogannya kayak gini nih :
- sepotong tak pernah cukup
- nendhang rasanya
- nikmat hingga gigitan terakhir
- dll

Tapi slogan browniesku kok malah 'melangkah dalam kasih sayangNya'.  Yaaa, biar sajalah, kataku sih nyambung bangeeeet.



Menurutku, sebuah tagline tidak harus sesuai dengan produknya,  tapi bisa jadi kalimat yang  mencerminkan visi dan misi perusahaan. Visiku mengajak orang mengingat Allah dan menemukan kasih sayang Allah di setiap detak kehidupan mereka.  Misiku adalah membangun bisnis yang berdiri di atas kasih sayang (prinsip bismillah).

Diriku sendiripun masih perlu diluruskan soal visi dan misi ini, biar gak berubah dan berbelok arah, makanya aku bikin tagline yang mengingatkan diriku sendiri, karyawan dan pembeli untuk mengingat Allah agar menjadi rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi alam semesta).  Nah, baru nyambung kan kalau gini ?  Lebih faham lagi akan nyambungnya bila tahu cerita selengkapnya disini .

Bagi kalian yang belum punya tagline di bisnis , coba bikin yuuuk, kalimatnya yang singkat dan ringkas saja, juga mudah diingat orang hingga orang akan langsung terbayang dengan usaha kita begitu mendengar kata tertentu.

Kata-katanya juga musti unik, jangan menggunakan kata yang sudah melekat pada orang lain, seperti istilah mak nyuuusss contohnya, kata itu  sudah kadung menjadi 'trade mark' nya pak  Bondan Winarno, jadi jangan dipakai yaaa.  Bikin saja ungkapan sendiri.

Oh, satu lagi, jangan membuat tagline dengan kata yang mengerikan atau menunjukkan hal negatif , contohnya ; nasi pecel neraka , untuk mencerminkan pedasnya.  Jangan !!!  karena kata seperti ini tidak sopan di hadapan Allah, seperti meledek ancaman Allah di kitabNya.

Sekarang banyak ditemukan nama warung yang aneh dan mengerikan.  Melihat fenomena seperti itu, kita  tidak usah ikut-ikutan yaaa.  Kata dan kalimat yang sopan dan menarik kan masih banyaaaaak.

Selasa, 26 Agustus 2014

Chocco Brownies

 Ini brownies coklat yang yummyyyy , crunchy di luar dan moist di dalam,  dengan bahan yang berkualitas  tapi  tetap ekonomis , maklum buat dijual.  Rahasianya ... hmmm ..... coklat blok yang biasanya dicampur di adonan aku ganti dengan meises.  Harga meises lebih miring dengan kulitas yang senada dengan coklat blok, dan rasanya juga tak kalah enak.  Cuman musti memilih meises yang benar-benar berkualitas, yang rasa coklatnya dominan (bukan warnanya doang yang coklat).  Ini dagangan andalanku, dan lariiiissssss manis.



Siapkan dulu 1 gelas minyak goreng/margarine/ mentega dipanaskan dengan 150 gram meises sampai meises terlarut semua.

Siapkan juga loyang yang musti dialasi dengan kertas roti kemudian disemir margarine.

6 telur, 1,5  gelas gula pasir dimixer sampai mengembang.

1,5 gelas tepung terigu protein sedang ditambah 1/2 gelas coklat bubuk diayak di atas adonan telur.  Campur rata, lalu masukkan larutan meises menteganya, campur rata.  Cetak jadi 3 cetakan brownies ukuran 9 x 20 cm . Oven sampai setengah matang.

Taburkan chocco chips atau coklat blok yang dipotong kotak di atas kue setengah matang, panggang lagi sampai matang.

Angkat dan hias dengan coklat leleh.  Caraku menghias , potong kotak coklat blok lalu masukkan dalam pipping bag, karetin bagian atasnya, lalu taruh di atas nasi  dalam magic com , setelah leleh dipakai menghias bagian atas brownies.  Cerdik kan caraku ?


White cheese Brownies

Pernah ada seorang sahabat memposting white cheese brownies di grup NCC, dan aku sekarang pingin bikin berdasarkan 'inget-inget' .... hahaha, yang jelas resep pasti tidak sesuai dengan aslinya, biarin !!! yang penting enaaaaak.



6 telur dan 1 gelas gula pasir dimixer sampai mengembang, jangan sampai kaku sekali ntar jadi cake yaaa.

Masukkan 1,5 gelas terigu, 3 sacet susu bubuk (75 gram) dan 150 gram butter/margarine leleh, terakhir masukkan 200 gram keju parut (kurangi dulu untuk ditabur di  bagian atasnya).

Adonan ini jadi 3 loyang ukuran 9 x 20 cm. 

Oven sampai matang.

Rasanya , enaaaak ...., tapi kurasa terlalu manis, mungkin di lain hari kalau bikin lagi, gulanya aku kurangi seperempatnya.

Kamis, 21 Agustus 2014

Potong Rambut Selfie

Model rambut seperti ini duluuuu adalah model rambut yang populer waktu aku SMA, sekitar tahun 80-an, namanya model punk rock .  Sekarang populer lagi dan ganti nama jadi model shaggy.  Dan ternyata mudah sekali cara membentuknya, bahkan bisa dilakukan sendiri, dengan tangan kita sendiri, gak pakai nyuruh tetangga, gak perlu potong rambut ke salon.  Aku sudah melakukannya pada rambutku sendiri dan hasilnyaaa ... tara !!! kayak gambar ini nih , tapi aku gak bisa memajang fotoku dengan rambut terurai, jadi aku gambar saja yaa.



Nah, tadi pagi aku merasa sudah waktunya ke salon, ini rambut sudah pada 'mbrojoli' kalau dipakaikan kerudung, sedang aku sendiri gak suka rambut dikaretin (jadi pusing kepalaku).

Eh, semua orang pada sibuk, gak ada yang aku minta nganterin ke salon.  Lalu teringat pernah melihat tips Rudy Hadisuwarno di televisi, cara memotong rambut dengan mudah dan hasil kayak potong rambut di salon.

Berikut caranya :
- sisir rambut ke arah atas, rangkum dengan tangan.
- karetin kuat
- potong sesuai panjang yang dikehendaki, kalau mau pendek banget berarti memotongnya pas di atas karet, kalau mau lebih panjang ya kasih jarak dengan karet (tadi aku memotong sekitar 10 cm dari karet)

 

- lepaskan karet dan sisir (bagusan pakai sisir bulat/cembung untuk membentuk gelombang)
- aku masih perlu memendekkan bagian poninya tadi, karena kalau terlalu panjang jadi suka 'nongol' dari kerudung

Semua aku lakukan sendiri tanpa bantuan siapapun. Dan kulihat di cermin, betapa cantiknya aku ..... hahahaha .

Senin, 18 Agustus 2014

Sebuah Langkah Pisang Mania

"Ternyata,  susaaaah  nyari untung dari pisang goreng seharga 500 rupiah-an", kataku ngomong sendiri sambil corat-coret menghitung bahan.  Lah mau jualan murah tapi gak tega memakai minyak goreng curah, karena gak biasa, lagi pula suka bikin serik di tenggorokan, juga gak tega memperkecil ukuran (ntar jualannya jadi pisang imut dong) , eh adonan tepungnya juga pakai telur, 4 telur loh per sekilo tepung (makanya pembeli bilang tepungnya kok enak ya ?), juga gula pasirnya asli pasir, eh .... maksudku gula pasir beneran, bukan pemanis buatan.  Yaaah, akhirnya secara hitungan di atas kertas, aku untung di pisangnya yang gak pakai beli.

Konsumenku yang senang, melihat minyak goreng di wajan yang kuning jernih (kan penjual gorengan pada   umumnya memakai minyak goreng sampai berwarna coklat tua hingga kehitaman  gitu), sampai ada yang bilang :"Wah minyak gorengnya bimoli ya ?".

Itulah sekelumit kisahku sebagai  pengusaha pisang goreng booth anyaran .  Hari ini sudah seminggu aku resmi menjadi pedagang kuliner, judul usahaku "Pisang Mania". Jualan pisang goreng aneka rasa, ada yang original yang aku jual 500 rupiah, ada pisang goreng nangka dan pisang goreng nanas seribuan rupiah. Ada pisang keju, pisang meses,brownies pisang dan kripik pisang.








Yang goreng-gorengan itu aku gak bisa menghitung untungnya karena kalkulatornya gak mau keluar angkanya, ngumpet  .... hehehehe.  Jadi aku berusaha nyari untung dari menu yang lain seperti pisang keju, pisang meises, brownies pisang dan keripik pisang.  Menu-menu yang terakhir ini yang bisa dihitung untungnya karena kalkulatornya tiba-tiba nyala .... huahahaha, untung kalkulatornya gak pakai teriak, bisa semaput aku.


































Ini foto hari pertama jualan, Reza dan mbak Kesi yang jaga stand, pas difoto browniesnya sudah habis.  Boothnya masih seadanya.

Lokasi jualanku di emperan Cantiq butikku, maksudnya biar gak pakai sewa dan mudah dihandle. Jadi kalau pagi sampai jam 4 sore butik, jam 4 sore ke atas, ganti pisang mania-nya yang buka.

Sejak awal buka, usahaku ini sudah melibatkan 4 orang tenaga kerja , yang bagian produksi brownies bu Kot, bu Warni dan aku, satu orang penjaga booth (namanya Ifa, masih sering aku bantu kalau ramai pembeli), satu orang sales representative (namanya Reza, baru lulus SMK, anak yatim yang ganteng)  dan mas Hary sebagai marketing supervisor.  Kalau aku dan mas Hary masuk hitungan,  berarti 6 orang dong ya. Ralat, 6 orang tenaga kerja.

Karena usaha yang baru 'mecungul jaya' sudah dibebani dengan menggaji segitu banyak orang, aku musti putar otak , menghitung dengan cermat, berapa target omzet biar usahaku untung, atau istilah kerennya bagaimana biar cepat melompati  BEP alias break even point (titik impas). Di tahap awal ini harus bisa menutup gaji semua karyawan dan selanjutnya secara bertahap harus memberikan keuntungan pada bossnya yang cantik ini.

Dan inilah cerita selanjutnya.  Mengingat dan menimbang, bila mengandalkan omzet dari booth yang belum terkenal, keburu tua lah aku nanti .... hehehe, mas Hary bikin terobosan untuk memperluas pasar. Gantengku itu membawa brownies ke pasar besar dan dijual di mobil, lariiiiiiis..... alhamdulillah.

Rahasiaku biar laris, seloyang brownies aku 'korbankan' buat diicip-icip calon pembeli dan beberapa loyang diiris-iris untuk dibagi-bagi ke tukang becak, tukang parkir dan 'tetangga-tetangga' sesama penjual yang dekat dengan mobil suami.

Brownies pisang termasuk kuliner baru buat orang Malang, tahunya brownies ya Amanda.  Dan ketika mereka mencicipi rasa browniesku yang empyus , mereka pada beli lah, sampai ada yang satu orang langsung  beli 3 loyang.

Dalam waktu dekat, salesku bertambah 1 lagi, dia teman si Reza, yang katanya nganggur dan butuh pekerjaan. Bersyukur aku, dengan usaha kecilku ini ternyata bisa membantu menyediakan lapangan pekerjaan meskipun belum banyak .

Minta doanya yaaaa.  Semoga usahaku lancar seterusnya, berkembang dan punya banyak cabang  agar lebih banyak manfaat buat banyak orang.

Yang mau pesan brownies pisang online boleeeeh bangggeeets, asal alamat terjangkau JNE YES (yakin esok sampai) ,  di wilayah jawa timur kota lebih cepat menggunakan travel, beberapa jam sudah nyampai.  Harganya cukup bersahabat 18 ribu saja, hemat lezat dan sehat.

Yang mau jadi agennya brownies pisang Innuri , ayooooo !!!